Jakarta, jakartanews.co.id Wakil Presiden Gibran Rakabuming menegaskan pentingnya penguatan riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia untuk memperkokoh industri kendaraan listrik nasional. Pemerintah juga menaruh perhatian pada pengembangan sepeda motor listrik, termasuk kemungkinan pemberian insentif guna mendorong minat masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Gibran saat menerima pakar kendaraan listrik dan energi, Profesor Ching-Chuen Chan, di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Pertemuan itu membahas strategi memperkuat ekosistem kendaraan listrik Indonesia, mulai dari dukungan kebijakan pemerintah, pengembangan teknologi dalam negeri, hingga peningkatan peran generasi muda dalam menciptakan inovasi.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, pada (29/10/2026), Gibran menyampaikan bahwa pengembangan kendaraan listrik, khususnya sepeda motor listrik, menjadi salah satu perhatian pemerintah sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Bapak Presiden juga sedang fokus pada sepeda motor listrik. Industrinya sebenarnya sudah mulai melangkah maju. Jadi, kita tinggal melihat insentif apa yang bisa diberikan kepada konsumen,” ujar Gibran.
Pernyataan tersebut menempatkan insentif sebagai salah satu instrumen kebijakan yang dapat dipertimbangkan untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik. Namun, penguatan industri nasional tidak cukup hanya bertumpu pada peningkatan penjualan. Kemampuan riset, penguasaan teknologi, kesiapan tenaga kerja, serta daya saing produk dalam negeri juga menjadi faktor penting untuk membangun industri yang berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyoroti pentingnya menyesuaikan kurikulum pendidikan tinggi dan memperkuat sertifikasi kompetensi agar lulusan perguruan tinggi mampu memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik.
Menurut Stella, pengembangan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan upaya membangun kemampuan teknologi nasional. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mendorong lahirnya peneliti, insinyur, dan inovator yang mampu menciptakan teknologi baru.
“Kementerian kami perlu mendorong perubahan kurikulum dan sertifikasi agar kita dapat memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik. Namun, kita juga harus memberikan perhatian besar pada pengembangan teknologi kita sendiri,” jelas Stella.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi industri kendaraan listrik membutuhkan keterhubungan yang kuat antara pendidikan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan pelaku industri. Tanpa kesiapan tenaga ahli dan kemampuan inovasi yang memadai, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi dari luar negeri.
Profesor Ching-Chuen Chan, yang menjabat sebagai Distinguished Chair Professor of Electric Vehicles and Smart Energy di Hong Kong Polytechnic University, menekankan pentingnya memperluas kolaborasi Indonesia dan China dalam pengembangan mobilitas listrik.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus mendorong generasi muda Indonesia berperan lebih aktif dalam menciptakan terobosan teknologi. Menurutnya, dukungan dan insentif yang tepat diperlukan agar anak muda memiliki motivasi untuk melakukan riset serta menghasilkan inovasi yang mampu bersaing.
“Untuk mendorong inovasi di kalangan generasi muda Indonesia, perlu ada insentif yang dapat memacu mereka untuk berinovasi,” tutur Chan seusai pertemuan.
Namun, Chan juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan pembelian teknologi dari negara lain. Penguasaan teknologi unggulan, menurutnya, harus dibangun melalui riset, pengembangan, dan inovasi yang dilakukan secara mandiri.
“Kita tidak bisa berharap negara lain memberikan teknologi terbaiknya. Mereka bisa menjual teknologi kepada kita, tetapi teknologi yang dijual itu belum tentu merupakan teknologi kelas satu. Yang bisa kita beli mungkin teknologi kelas dua atau tiga,” jelasnya.
“Teknologi kelas satu harus kita bangun sendiri. Karena itu, dorong generasi muda untuk berinovasi. Teknologi tidak bisa sekadar dibeli,” sambung Chan.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap teknologi impor dapat membatasi kemampuan Indonesia untuk membangun keunggulan industri dalam jangka panjang. Karena itu, transfer pengetahuan dan kerja sama internasional perlu disertai peningkatan kapasitas riset domestik agar Indonesia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi.
Pengembangan kendaraan listrik nasional membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan insentif dan peningkatan jumlah kendaraan di jalan. Indonesia juga perlu memperkuat kemampuan merancang, mengembangkan, dan memproduksi teknologi strategis, termasuk sistem penggerak listrik, baterai, perangkat kendali, serta komponen pendukung lainnya.
Di sisi lain, dunia pendidikan harus mampu menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, dan perusahaan menjadi kunci agar hasil riset dapat diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Pertemuan Gibran dengan Profesor Chan mempertegas pentingnya menempatkan inovasi sebagai fondasi pengembangan industri kendaraan listrik Indonesia. Insentif dapat membantu mendorong permintaan, sedangkan pendidikan, riset, dan penguasaan teknologi menentukan kemampuan industri nasional untuk berkembang secara mandiri.
Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kebijakan konkret dan program berkelanjutan. Dengan demikian, ambisi Indonesia memperkuat industri kendaraan listrik tidak berhenti pada perluasan pasar, tetapi juga menghasilkan teknologi yang mampu bersaing dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Ervinna
