Jakarta, jakartanews.co.id
Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong pemanfaatan bahasa agama sebagai instrumen diplomasi global untuk memperkuat perdamaian dunia, meredam konflik, dan menjawab krisis kemanusiaan. Menurutnya, diplomasi internasional perlu melampaui perundingan politik dengan menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam bentuk aksi nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat menghadiri Pertemuan Internasional untuk Perdamaian yang diselenggarakan Komunitas Sant’Egidio di Assisi, Italia, pada 25–27 Oktober 2026. Dalam forum bertajuk Unarmed and Disarming Peace, ia tampil sebagai pembicara kunci pada Forum 16 bertema Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi.
Melalui makalah berjudul Beyond Tolerance, Beyond Domination: Progressive Pluralism and Ecotheology in the Indonesian Archipelago, Nasaruddin menawarkan dua pendekatan untuk memperkuat perdamaian berkelanjutan, yakni pluralisme progresif dan ekoteologi Nusantara.
“Dialog lintas agama tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen kesepakatan di atas kertas, melainkan harus ditransformasikan menjadi aksi kemanusiaan yang nyata,” ujar Nasaruddin dalam keterangan tertulis yang diterima pada (29/10/2026).
Ia menegaskan, agama memiliki sumber nilai moral dan spiritual yang dapat memperkuat solidaritas, mengurangi permusuhan, serta membuka ruang kerja sama di tengah meningkatnya tantangan kemanusiaan dan konflik global.
Pluralisme Progresif: Melampaui Toleransi, Menolak Dominasi
Dalam paparannya, Nasaruddin mengajak masyarakat internasional memaknai kerukunan secara lebih substantif. Baginya, toleransi tidak cukup jika hanya dimaknai sebagai kesediaan membiarkan orang lain memiliki keyakinan yang berbeda.
Kerukunan yang kokoh, menurut dia, membutuhkan penghormatan aktif terhadap keberagaman, pengakuan atas kesetaraan, serta jaminan bahwa setiap kelompok dapat menjalankan keyakinannya tanpa tekanan untuk menyeragamkan identitas.
Atas dasar itu, hubungan antarumat beragama tidak semestinya dibangun melalui dominasi kelompok mayoritas terhadap minoritas. Sebaliknya, perdamaian membutuhkan komitmen untuk hidup berdampingan secara setara, saling menghormati, dan menjaga martabat setiap manusia.
“Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama,” demikian prinsip yang disampaikan Nasaruddin untuk menegaskan pentingnya mengelola keberagaman tanpa menyeragamkan perbedaan.
Ia menilai pengalaman Indonesia dalam merawat kemajemukan dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi masyarakat internasional, terutama ketika polarisasi identitas dan konflik berbasis agama masih menjadi tantangan di berbagai belahan dunia.
Dalam kerangka tersebut, agama diharapkan tidak menjadi garis pemisah antarkelompok, melainkan jembatan untuk memperkuat persaudaraan dan solidaritas kemanusiaan.
Ekoteologi: Memperluas Makna Perdamaian Hingga Perlindungan Bumi
Selain pluralisme progresif, Nasaruddin mengangkat ekoteologi sebagai pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab manusia terhadap kelestarian lingkungan.
Ia menyoroti bahwa krisis iklim bukan semata-mata persoalan teknologi, ekonomi, atau kebijakan publik. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan cara manusia memandang alam dan menempatkan dirinya dalam hubungan dengan lingkungan.
Dalam perspektif ekoteologi, alam tidak seharusnya diperlakukan semata-mata sebagai objek eksploitasi. Manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan lingkungan demi keberlangsungan kehidupan.
Dengan menggunakan perspektif sufistik Islam, Nasaruddin mengajak masyarakat memahami alam sebagai manifestasi tanda-tanda kebesaran Tuhan. Pandangan tersebut, menurutnya, dapat menjadi landasan etis untuk membangun perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi.
Ia juga mendorong para pemimpin agama menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari praktik keagamaan dan gerakan kemanusiaan.
Pendekatan ini memperluas pengertian perdamaian. Perdamaian bukan hanya berarti tidak adanya perang atau kekerasan antarmanusia, tetapi juga mencakup upaya menjaga bumi agar tetap layak dihuni oleh generasi mendatang.
Masjid Istiqlal Jadi Contoh Penerapan Ekoteologi
Untuk menunjukkan penerapan ekoteologi secara konkret, Nasaruddin mengangkat pengelolaan Masjid Istiqlal di Jakarta sebagai contoh rumah ibadah yang mengintegrasikan nilai keagamaan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Dalam materi yang dipaparkan pada forum tersebut, Masjid Istiqlal disebut telah memperoleh sertifikasi bangunan hijau EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies) dari International Finance Corporation (IFC).
Berbagai langkah efisiensi, termasuk pemanfaatan panel surya dan pengelolaan air wudu, disebut menghasilkan penghematan energi sebesar 23 persen dan air hingga 36 persen.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana rumah ibadah dapat mengambil bagian dalam upaya menghadapi perubahan iklim. Nilai keagamaan tidak hanya diwujudkan melalui ritual, tetapi juga melalui pengelolaan fasilitas ibadah yang memperhatikan efisiensi sumber daya dan kelestarian lingkungan.
Nasaruddin mendorong rumah ibadah di berbagai negara untuk memperluas perannya sebagai pusat pendidikan lingkungan, penguatan solidaritas sosial, dan pelaksanaan aksi kemanusiaan.
Pesan Paus Leo XIV Perkuat Seruan Perdamaian
Pertemuan internasional di Assisi juga diwarnai penyampaian pesan video Paus Leo XIV yang menekankan pentingnya perdamaian dan penolakan terhadap perang.
Pesan tersebut mengajak para pemimpin dunia meninggalkan bahasa kesombongan serta mengedepankan negosiasi dan upaya damai dalam menyelesaikan konflik.
Semangat itu sejalan dengan gagasan Nasaruddin tentang pentingnya diplomasi yang tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan politik, tetapi juga berpijak pada nilai moral, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Forum yang mempertemukan tokoh lintas agama dan pemikir internasional tersebut membahas beragam isu, mulai dari perdamaian dan persaudaraan hingga kebebasan beragama dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sejumlah tokoh yang disebut hadir dalam rangkaian forum tersebut antara lain Presiden Komunitas Sant’Egidio Marco Impagliazzo, penasihat khusus Abrahamic Family House David Rosen, tokoh Buddhisme Jepang Megumi Hirota Wada, serta Kardinal George Jacob Koovakad dari Takhta Suci.
Keterlibatan tokoh dari berbagai latar belakang keagamaan memperlihatkan pentingnya kerja sama lintas iman dalam membangun ruang dialog dan merumuskan respons bersama terhadap tantangan kemanusiaan.
Diplomasi Keagamaan Indonesia Perlu Berujung Pada Aksi Nyata
Partisipasi Nasaruddin dalam forum perdamaian di Assisi menegaskan upaya membawa pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman ke ruang dialog internasional.
Ia menilai bahasa agama dapat menjadi instrumen strategis untuk membuka komunikasi ketika pendekatan politik menghadapi kebuntuan. Namun, pendekatan tersebut bukan untuk menggantikan diplomasi formal, melainkan melengkapinya dengan nilai kemanusiaan, empati, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Melalui gagasan pluralisme progresif dan ekoteologi, Indonesia dapat menawarkan pendekatan yang menghubungkan kerukunan antarumat beragama dengan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.
Konsekuensinya, keberhasilan diplomasi keagamaan tidak cukup diukur dari terselenggaranya pertemuan, pertukaran gagasan, atau lahirnya dokumen kesepakatan. Dampaknya juga perlu terlihat dalam penguatan perlindungan kebebasan beragama, kerja sama kemanusiaan, pencegahan konflik, dan aksi nyata menjaga lingkungan.
Setelah agenda di Assisi, Nasaruddin dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Vatikan untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Takhta Suci serta menjajaki kerja sama kajian keagamaan dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica (PISAI).
Rangkaian agenda tersebut diharapkan memperluas kerja sama Indonesia dengan komunitas internasional dalam memperkuat dialog lintas agama, membangun perdamaian, dan merespons tantangan kemanusiaan global.
Pada akhirnya, pesan utama yang dibawa Indonesia ke forum tersebut adalah bahwa agama perlu hadir bukan hanya sebagai sumber inspirasi moral, melainkan juga sebagai kekuatan yang mendorong tindakan nyata: merawat keberagaman, mengurangi permusuhan, dan melindungi kehidupan.
Ervinna
