Jakarta, jakartanews.co.id TNI Angkatan Udara (TNI AU) menyebut hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) merupakan hasil pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut dilakukan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus mengurangi dampak kabut asap yang mengancam lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Dalam operasi ini, lima pesawat TNI AU dikerahkan dari apron Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, untuk melaksanakan penyemaian awan di sejumlah wilayah yang menjadi sasaran operasi. Misi tersebut melibatkan pesawat angkut dengan metode penyemaian menggunakan bahan tertentu, termasuk dry ice dan natrium klorida (NaCl), guna mendukung proses pembentukan hujan.
Pelaksanaan OMC difokuskan pada sejumlah kawasan di Kalimantan Tengah, meliputi Palangkaraya, Pulang Pisau, Katingan, Seruyan, hingga Kotawaringin Timur. Wilayah-wilayah tersebut menjadi sasaran penyemaian awan dalam upaya membantu mengatasi dampak karhutla dan kabut asap.
Lima Pesawat Dikerahkan, Penyemaian Dilakukan di Sejumlah Wilayah
Dalam rincian operasi, pesawat NC-212/A-2107 yang diawaki Mayor Penerbang Candra A.W. dan NC-212i/A-2119 yang diawaki Kapten Penerbang Edwin A. melaksanakan empat sortie penyemaian dry ice di wilayah tenggara Palangkaraya.
Sementara itu, pesawat NC-212/A-2105 yang diawaki Mayor Penerbang Adam N.F. melaksanakan penyemaian menggunakan natrium klorida (NaCl) di wilayah selatan Palangkaraya.
Dua pesawat lainnya, yakni CN-295/A-2904 yang diawaki Mayor Penerbang Ryan P. serta C-130/A-1328 yang diawaki Mayor Penerbang Matheus B.L., menjalankan misi penyemaian di wilayah Pulang Pisau, Katingan, Seruyan, hingga Kotawaringin Timur.
Kedua pesawat tersebut melaksanakan misi pada ketinggian sekitar 10.000 hingga 12.000 kaki. Penggunaan beberapa jenis pesawat memungkinkan pelaksanaan misi di sejumlah wilayah sasaran sesuai dengan kebutuhan operasi dan kondisi atmosfer.
Pengerahan lima pesawat tersebut menunjukkan dukungan unsur udara dalam penanganan karhutla. Namun, efektivitas operasi tetap bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai, kondisi atmosfer, serta distribusi hujan di wilayah sasaran.
TNI AU Tegaskan Kesiapan Dukung Penanganan Karhutla
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Penerbang Hilman L.P. Ambarita, mengapresiasi kerja keras seluruh personel yang terlibat dalam pelaksanaan OMC. Ia menegaskan bahwa TNI AU akan terus menyiagakan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan fasilitas pendukung guna membantu penanganan karhutla.
“Turunnya hujan adalah jawaban atas ikhtiar dan sinergi kita bersama di lapangan. TNI AU melalui Lanud Sjamsudin Noor tidak akan berhenti mengawal misi OMC ini sampai seluruh ruang udara Kalimantan benar-benar bersih dan bebas dari asap,” ujar Hilman dalam keterangannya, (28/10/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen TNI AU untuk terus mendukung upaya penanggulangan karhutla melalui operasi udara. Meski demikian, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan modifikasi cuaca, tetapi juga memerlukan pemadaman langsung di titik kebakaran, pengawasan kawasan rawan, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.
Modifikasi Cuaca Bukan Satu-satunya Solusi
Operasi Modifikasi Cuaca merupakan salah satu langkah untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Dalam praktiknya, penyemaian awan tidak dapat menjamin hujan turun di setiap wilayah sasaran karena hasilnya dipengaruhi oleh karakteristik awan, kelembapan, suhu, dan dinamika atmosfer.
Karena itu, hujan yang turun setelah pelaksanaan OMC perlu dievaluasi melalui data meteorologi dan pengukuran curah hujan untuk memastikan seberapa besar kontribusi operasi tersebut terhadap kondisi cuaca di lapangan.
Di tengah ancaman karhutla dan kabut asap, langkah TNI AU melalui pengerahan lima pesawat menjadi bagian penting dari upaya penanganan darurat. Namun, dampak nyata operasi perlu dilihat dari indikator yang terukur, seperti penurunan jumlah titik panas, berkurangnya luas lahan terbakar, membaiknya kualitas udara, serta menurunnya risiko kebakaran berulang.
Upaya modifikasi cuaca juga perlu berjalan beriringan dengan tindakan pencegahan, patroli terpadu, penegakan hukum, dan pemulihan lahan terdampak. Dengan pendekatan tersebut, penanganan karhutla tidak berhenti pada turunnya hujan, tetapi diarahkan pada pengendalian kebakaran secara berkelanjutan dan perlindungan masyarakat dari ancaman kabut asap.
Ervinna
