jakartanews
Jakarta, Aparat kepolisian mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam mengawal aksi unjuk rasa memperingati Hari Reformasi yang berlangsung di kawasan Monas, Jakarta, pada (21/5/2026).
Polres Metro Jakarta Pusat bersama jajaran Polda Metro Jaya menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan ibu kota sekaligus memastikan hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi tetap terlindungi.
Pendekatan humanis tersebut diwujudkan dengan menerjunkan tim Polisi Wanita (Polwan) sebagai garda terdepan dalam pengamanan aksi. Kehadiran Polwan diharapkan mampu menciptakan suasana yang lebih sejuk, meredam ketegangan, serta membangun komunikasi yang baik dengan massa aksi.
Kepala Biro Perencanaan Umum dan Anggaran (Karorena) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Teguh Tri Sasongko, menegaskan bahwa seluruh personel harus mengutamakan pelayanan kepada masyarakat serta menghindari tindakan represif selama pengamanan berlangsung.
“Pegang teguh prinsip jaga Jakarta, lindungi warga dan masyarakat, tunjukkan prinsip persuasif dan humanis, jaga profesionalisme dan buktikan bahwa kita mampu menjaga masyarakat sebaik-baiknya,” ujar Teguh saat memimpin Apel Gabungan di Lapangan Silang Monas, Jakarta, pada (21/5/2026).
Ia menekankan bahwa pengamanan aksi tidak semata berorientasi pada penegakan keamanan, tetapi juga bertujuan menjaga kepercayaan publik terhadap aparat kepolisian melalui pendekatan yang santun dan komunikatif.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Ashabul Kahfi, mengatakan tim Negosiator Polwan disiapkan untuk aktif menjalin komunikasi dengan peserta aksi di lapangan.
Selain memberikan imbauan kamtibmas, para Polwan juga membawa bantuan logistik berupa makanan dan minuman yang dibagikan langsung kepada massa aksi.
“Nanti untuk rekan Tim Negopolwan (Negosiator Polwan), kami mohon bantuan lagi untuk nanti ada dukungan logistik dari rekan-rekan Polwan. Kita yang kedepankan, begitu pun nanti untuk pemberian imbauan-imbauan kepada massa pengunjuk rasa,” kata Kahfi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengamanan humanis yang diterapkan kepolisian guna menciptakan suasana demonstrasi yang kondusif dan minim gesekan antara aparat dengan peserta aksi.
Meski mengedepankan pendekatan persuasif, aparat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan keamanan dan tindakan provokatif yang dapat memicu kericuhan.
Kepolisian mengaku telah melakukan deteksi dini terhadap berbagai kemungkinan, termasuk upaya pembakaran ban atau penggunaan bahan mudah terbakar di sekitar lokasi aksi.
“Kita laksanakan dengan persuasif dan humanis, tetapi tetap kita upayakan agar tidak ada hal-hal yang membahayakan, antara lain potensi bakar atau pembakaran ban maupun alat dan bahan lain yang mudah terbakar sejak awal,” tegas Kahfi.
Selain itu, seluruh personel gabungan diinstruksikan untuk terus memantau perkembangan situasi di lapangan secara intensif. Aparat diminta tidak meremehkan kondisi sekecil apa pun dan selalu siap menghadapi kemungkinan eskalasi massa di sejumlah titik strategis di kawasan pusat pemerintahan.
“Pada intinya rekan-rekan jangan underestimate. Kita selalu overestimate, memperkirakan sampai dengan kemungkinan terburuk sehingga apabila terjadi kemungkinan terburuk itu kita sudah siap,” lanjutnya.
Aksi peringatan Hari Reformasi tahun ini dipusatkan di kawasan Monas Selatan dan sepanjang Jalan Medan Merdeka Selatan. Sejumlah elemen mahasiswa, organisasi masyarakat, serta kelompok aktivis dijadwalkan menyampaikan aspirasi terkait berbagai isu nasional dan evaluasi perjalanan reformasi di Indonesia.
Kepolisian berharap seluruh rangkaian aksi dapat berlangsung aman, tertib, damai, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat umum. Dengan pendekatan yang lebih humanis dan komunikatif, aparat optimistis suasana kondusif dapat tetap terjaga selama jalannya demonstrasi.
Ervinna
