Jakarta, jakartanews.co.id Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melontarkan kelakar mengenai kemungkinan perluasan jangkauan layanan Transjabodetabek hingga menghubungkan Blok M, Jakarta Selatan, dengan Bandung, Jawa Barat. Pernyataan tersebut mencuri perhatian di tengah upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperluas konektivitas transportasi publik dan menghidupkan kawasan-kawasan strategis ibu kota.
Pramono menyampaikan celetukan itu saat membahas perkembangan layanan Transjabodetabek yang kini menghubungkan Jakarta dengan sejumlah wilayah penyangga. Ia menggambarkan bagaimana Blok M menjadi salah satu titik keberangkatan yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai daerah di sekitar Jakarta.
“Bahkan ada kelakar bahwa saat ini rute transportasi publik menghubungkan Blok M ke mana saja, dari Blok M ke Bogor, Blok M ke Bekasi, Blok M ke Karawang, Blok M ke Alam Sutera, dan kelak barangkali Blok M ke Bandung,” ujar Pramono, pada (24/10/2026).
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan hadirnya layanan langsung Transjabodetabek dari Blok M menuju Bandung.
Blok M–Bandung Belum Dipastikan
Meski menyebut kemungkinan rute Blok M–Bandung, Pramono tidak mengumumkan keputusan resmi mengenai pembukaan jalur tersebut. Hingga pernyataan itu disampaikan, belum ada kepastian mengenai jadwal operasional, mekanisme layanan, maupun realisasi rute yang menghubungkan Jakarta dengan ibu kota Jawa Barat tersebut.
Karena itu, pernyataan Pramono perlu dipahami sebagai kelakar yang menggambarkan luasnya konektivitas transportasi publik, bukan sebagai pengumuman bahwa rute Blok M–Bandung akan segera beroperasi.
Pramono menjelaskan bahwa konektivitas Transjabodetabek memungkinkan sejumlah wilayah penyangga Jakarta, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, terhubung melalui layanan transportasi publik.
“Tenang saja, semuanya terhubung melalui Transjabodetabek,” tutur Pramono.
Pernyataan itu menegaskan pentingnya konektivitas antardaerah dalam mendukung mobilitas masyarakat. Namun, perluasan layanan ke wilayah yang lebih jauh tetap membutuhkan perencanaan, kajian operasional, serta keputusan resmi dari pihak berwenang.
Blok M Jadi Magnet Anak Muda
Di balik kelakar mengenai rute Blok M–Bandung, Pramono menyoroti perkembangan Blok M sebagai salah satu pusat aktivitas anak muda di Jakarta.
Kawasan di Jakarta Selatan itu semakin dikenal berkat beragam pilihan kuliner, tempat pertunjukan musik, serta usaha lokal yang menarik pengunjung dari berbagai kalangan. Popularitasnya bahkan melahirkan julukan tidak resmi seperti “Negara Blok M” dan “Republik Blok M”.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari kemudahan akses transportasi publik. Selain dilayani Transjabodetabek, Blok M terhubung dengan MRT Jakarta sehingga masyarakat dapat menjangkau kawasan itu dengan lebih mudah.
Konektivitas transportasi bukan sekadar mempersingkat perjalanan. Akses yang baik juga berpotensi meningkatkan jumlah pengunjung, menggerakkan aktivitas ekonomi, dan membuka peluang usaha bagi pelaku bisnis lokal.
Dalam konteks itu, Blok M menjadi salah satu contoh bagaimana integrasi transportasi publik dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan kawasan perkotaan.
Pasar Baru, Glodok, dan Kota Tua Jadi Sasaran Penataan
Pemprov DKI Jakarta tidak hanya ingin mempertahankan daya tarik Blok M. Pramono juga mengungkapkan rencana penataan sejumlah kawasan lain, yakni Pasar Baru di Jakarta Pusat serta Glodok Pecinan dan Kota Tua di Jakarta Barat.
Penataan tersebut diarahkan untuk memperkuat identitas setiap kawasan sekaligus meningkatkan daya tariknya bagi warga Jakarta maupun wisatawan. Pengembangannya juga akan diselaraskan dengan perkembangan pembangunan MRT Jakarta.
Di Pasar Baru, Pramono ingin menghidupkan aktivitas ekonomi dan kuliner agar kawasan tersebut tetap ramai hingga 24 jam. Ia bahkan berharap Pasar Baru dapat berkembang menyerupai Myeongdong, kawasan populer di Seoul, Korea Selatan, yang dikenal sebagai pusat belanja dan kuliner.
Sementara itu, penataan Glodok Pecinan akan mengedepankan pelestarian sejarah dan budaya masyarakat Tionghoa yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan Jakarta.
Pemerintah ingin kawasan tersebut tetap mempertahankan karakter historisnya, sekaligus menghadirkan lingkungan yang nyaman dan menarik bagi pengunjung.
Adapun Kota Tua akan dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan pilihan aktivitas yang lebih beragam. Selain menikmati bangunan bersejarah, pengunjung diharapkan memiliki lebih banyak pilihan kuliner, termasuk restoran dengan konsep santap malam atau fine dining.
“Kami akan menata Glodok Pecinan dengan memadukan nilai historisnya yang panjang sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut masyarakat Tionghoa, sekaligus menciptakan ruang yang nyaman bagi siapa saja yang datang berkunjung,” pungkasnya.
Tantangan Menghubungkan Transportasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Rencana penataan kawasan dan perluasan konektivitas transportasi memperlihatkan arah kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang berupaya mengintegrasikan mobilitas masyarakat dengan pengembangan ekonomi perkotaan.
Namun, keberhasilan kebijakan tersebut tidak cukup diukur dari bertambahnya rute transportasi atau ramainya suatu kawasan. Integrasi antarmoda, kenyamanan perjalanan, kepastian jadwal, akses bagi seluruh kelompok masyarakat, serta keberlanjutan usaha lokal juga menjadi faktor penting.
Adapun wacana Blok M–Bandung masih memerlukan kejelasan lebih lanjut. Tanpa pengumuman resmi mengenai rute dan jadwal operasional, masyarakat belum dapat memastikan apakah perjalanan langsung tersebut akan benar-benar diwujudkan melalui layanan Transjabodetabek.
Untuk saat ini, kelakar Pramono lebih tepat dibaca sebagai gambaran ambisi memperluas konektivitas transportasi publik. Adapun realisasi rute hingga Bandung tetap menunggu keputusan dan penjelasan resmi dari pemerintah terkait.
Ervinna
