jakartanews
Bogor, Sastrajendra Living Academy (SLA) kembali menggelar kegiatan spiritual dan budaya bertajuk “Tirtayatra Meditasi Alam Arca Domas 2026” pada momentum Setu Pahingan, 30–31 Mei 2026, di kawasan Arca Domas, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Bogor, Jawa Barat.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai spiritualitas Nusantara.
Mengusung tema “Kembali ke Alam, Kembali ke Diri”, kegiatan ini menghadirkan suasana kontemplatif di tengah kawasan pegunungan yang masih terjaga keasriannya.
Tirtayatra Meditasi Alam Arca Domas tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan menuju sebuah situs bersejarah, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual untuk memahami kembali jati diri manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta.
Turut hadir para pegiat budaya, para spiritual Bogor dan peserta meditasi.
Koordinator Juru Pelihara (Jupel) Dinas Kebudayaan Kabupaten/Kota Bogor, Ishak Tumetir, menegaskan bahwa keberadaan Situs Arca Domas memiliki arti penting, tidak hanya dari sisi sejarah dan budaya, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang menyimpan nilai-nilai luhur.
Menurut Ishak, kegiatan spiritual yang dilakukan secara bertanggung jawab di kawasan cagar budaya dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan peninggalan budaya bangsa.
“Kawasan Arca Domas selama ini dikenal sebagai salah satu situs budaya yang memiliki nilai historis dan spiritual penting di wilayah Bogor. Kerusakan pada Arca Domas dan kurangnya pengertian pengunjung sangat disesalkan.
“Keberlanjutan warisan budaya tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan merawatnya. Kesadaran kolektif ini menjadi penting agar situs-situs bersejarah yang menyimpan identitas budaya bangsa terpelihara dengan baik.” tambah Ishak.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan Tirtayatra Meditasi Alam menghadirkan beragam agenda yang dirancang untuk memperkuat pengalaman spiritual peserta.
Mulai dari meditasi alam dalam keheningan, kontemplasi batin, tirta penyucian jiwa, dialog budaya, hingga prosesi penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.
Setiap sesi dirancang untuk membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian integral dari ekosistem kehidupan.
Melalui pendekatan spiritual yang berpijak pada nilai-nilai kebudayaan Nusantara, peserta diajak memahami bahwa kelestarian alam dan keberlangsungan budaya merupakan dua hal yang saling berkaitan.
“Kegiatan Tirtayatra Meditasi Alam merupakan bentuk nyata upaya membangun keselarasan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang hidup dalam budaya Nusantara. Di sini tersimpan nilai-nilai spiritual yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya , pada (31/5/2026).
Maria (peserta) menambahkan bahwa suasana alam yang tenang dan penuh kedamaian membantu menemukan kembali ketenangan batin di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.
“Melalui kegiatan Tirtayatra Meditasi Alam di Arca Domas ini, kami menemukan keheningan batin, membangun kesadaran ekologis, serta mempererat kebersamaan dalam semangat persaudaraan yang harmonis.” tuturnya.
Sesepuh Sastrajendra Living Academy, Toni Junus Kanjeng NgGung, menjelaskan bahwa makna tirtayatra jauh melampaui perjalanan fisik menuju suatu tempat yang dianggap sakral.
Menurutnya, tirtayatra merupakan perjalanan spiritual untuk mengenali hakikat diri dan menemukan keseimbangan hidup.
Ia menilai Arca Domas merupakan salah satu ruang kontemplasi yang memiliki nilai penting dalam tradisi spiritual Nusantara karena mengingatkan manusia pada hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
“Arca Domas merupakan salah satu ruang kontemplasi yang mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta. Ketika manusia mampu kembali menyatu dengan alam, maka ia akan lebih mudah menemukan kedamaian dalam dirinya, yang malam ini sengaja saya buka meditasi untuk menggunakan Sadulur Papat yang misterius, hanya dikenal mantranya saja.” ujar Toni Junus Kanjeng NgGung.
Menurutnya, nilai utama yang ingin ditanamkan melalui kegiatan ini adalah kesadaran hidup untuk menjadi bijaksana agar tercapai ‘kasampurnaning hurip’. Kata Toni Junus, sebagai sesepuh SLA.
Ia mendorong semua yang hadir dan mengadakan pengisian enerji agar hidup keduniawian tidak diabaikan begitu saja.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat dan kompleks, kesadaran tersebut dinilai menjadi semakin penting.
Kegiatan Tirtayatra Meditasi Alam dipandang sebagai salah satu sarana untuk meraih hidup yang keberkahan.
Selain memperkuat dimensi spiritual, penyelenggaraan Tirtayatra Meditasi Alam Arca Domas 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian situs budaya dan lingkungan hidup. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang itu menunjukan bahwa upaya menjaga warisan budaya dapat dilakukan melalui pendekatan yang inklusif dan partisipatif.
Melalui penyelenggaraan Tirtayatra Meditasi Alam Arca Domas 2026, Sastrajendra Living Academy kembali menegaskan komitmennya dalam merawat spiritualitas Nusantara. Toni Junus mengutamakan mendorong dan mengadakan blessing kehidupan para pesertanya agar kelak hidup semakin baik, kehidupan yang seimbang antara spiritual dan keduniawian.
Ervinna
