jakartanews
Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memutihkan sebanyak 2.026 ijazah peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.
Kebijakan ini dinilai tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga membawa dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah membuka kembali akses pendidikan dan kesempatan hidup yang lebih baik bagi warga.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam upacara Hardiknas di Balai Kota DKI Jakarta, pada (4/5/2026).
“Pada tahun 2026 tahap pertama, akan dibagikan ijazah kepada 2.026 peserta didik mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK, hingga PKBM dengan total anggaran hampir Rp4 miliar,” ujar Rano.
Program pemutihan ijazah ini dilaksanakan melalui kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta. Dana yang digunakan berasal dari anggaran sosial yang ditujukan untuk membantu warga yang terkendala dalam pengambilan ijazah akibat tunggakan biaya pendidikan.
Menurut Rano, kebijakan ini memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar penyerahan dokumen akademik.
“Ini bukan sekadar pembagian dokumen; ini adalah pengembalian martabat dan harga diri. Ini adalah pembukaan kembali pintu kesempatan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa ijazah merupakan salah satu syarat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup, baik dalam memperoleh pekerjaan maupun melanjutkan pendidikan.
“Sebab bagi banyak orang, selembar ijazah bukan hanya kertas. Ia adalah kunci untuk bekerja, melanjutkan pendidikan, mengangkat keluarga, dan menatap masa depan dengan kepala tegak,” lanjutnya.
Lebih jauh, program ini juga diharapkan mampu menghidupkan kembali harapan masyarakat yang sempat terhambat oleh berbagai kendala ekonomi.
“Kita ingin mengatakan kepada mereka yang sempat tertunda langkahnya, hari ini pintu itu dibuka kembali. Beban masa lalu kita ringankan, mimpi yang sempat terhenti kita hidupkan kembali,” tutur Rano.
Selain program pemutihan ijazah, Pemprov DKI Jakarta juga menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pendidikan vokasi. Dalam kesempatan yang sama, pemerintah melepas 561 lulusan SMK untuk bekerja di luar negeri, yakni ke Jepang, Malaysia, dan Jerman.
“Kedua, pada hari ini kita melepas 561 alumni SMK di Jakarta yang siap bekerja menuju Jepang, Malaysia, dan Jerman,” ungkap Rano.
Ia menilai langkah ini sebagai bukti bahwa lulusan pendidikan vokasi di Jakarta memiliki daya saing global.
“Inilah wajah baru pendidikan vokasi Jakarta. Inilah semangat SMK Naik Kelas, Alumni Mendunia.
Anak-anak SMK Jakarta bukan hanya siap masuk dunia kerja, tetapi siap berdiri sejajar di panggung global,” katanya.
Rano juga berpesan kepada para lulusan agar menjaga nama baik Indonesia selama bekerja di luar negeri.
“Bawalah nama Jakarta dengan bangga, bekerjalah dengan jujur, dan belajarlah dengan rendah hati. Tunjukkan bahwa kalian bukan hanya tenaga terampil, tetapi juga duta karakter Indonesia disiplin, santun, tangguh, dan bermartabat,” pungkasnya.
Program pemutihan ijazah dan pengiriman tenaga kerja terampil ke luar negeri ini menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI Jakarta dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang.
Ervinna
