JakartaNews, Jakarta, 15 Maret 2026 – Ketua AWPI Provinsi DKI Jakarta, Abdul Haris, S.I.P., M.T., K.W.I., menekankan bahwa media harus jadi penjernih, bukan bensin, di konflik AS–Israel–Iran. Di era propaganda perang, ia mengingatkan bahwa berita gegabah mempercepat kepanikan—harga minyak melonjak, pasar Asia bergejolak, ujaran kebencian menyasar diaspora.
“Jika media mengedepankan klaim sepihak, publik kehilangan konteks dan korban jadi angka,” ujar Abdul Haris. Ia merinci dampak propaganda perang—rush valas, evakuasi prematur, sentimen sektarian—serta dampak perang yang lebih luas: korban sipil & pengungsi, sekolah/RS hancur, kelangkaan pangan-obat, dan trauma anak. Secara ekonomi, rantai pasok energi dan pupuk terganggu, ongkos logistik naik, inflasi menekan rumah tangga; lingkungan tercemar oleh kebakaran ladang minyak dan limbah militer.
AWPI DKI mendorong redaksi menahan judul bombastis, memverifikasi citra satelit, dan menyajikan rubrik penjelas—kronologi, peta, pengecekan fakta. “Netral itu adil: beri ruang semua pihak, utamakan warga sipil, koreksi cepat. Akurasi adalah pertahanan terbaik agar propaganda perang tak mendikte opini publik.”
Abdul Haris juga menyerukan kepada tokoh-tokoh dan pemimpin dunia: hentikan retorika saling ancam, buka kanal diplomasi, dan utamakan perlindungan warga sipil. “Kedamaian itu indah untuk kita semua—lebih mudah dirawat daripada perang yang merusak generasi.”
