jakartanews
Jakarta, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sastra memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik, mengembangkan olah rasa, sekaligus memperkuat budaya literasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Karena itu, pemerintah berkomitmen memperluas ruang bagi anak-anak untuk berekspresi, berimajinasi, serta menghasilkan karya sastra melalui berbagai platform, termasuk media digital.
Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan yang berkualitas tidak cukup hanya mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik. Pendidikan juga harus mampu menumbuhkan keseimbangan antara kecerdasan berpikir, kepekaan rasa, pembentukan karakter, dan kesehatan jasmani.
“Pendidikan itu ada empat, yaitu olahraga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati. Keempatnya harus tumbuh semuanya dan harus kita berikan ruang yang terintegrasi,” kata Mu’ti di Jakarta, pada (28/7/2026).
Ia menjelaskan, selama ini pendidikan sering kali lebih menitikberatkan pada aspek akademik atau olah pikir. Padahal, pembentukan karakter tidak dapat dipisahkan dari pengembangan olah rasa dan olah hati yang menjadi fondasi lahirnya peserta didik yang berintegritas, berempati, kreatif, serta memiliki kepedulian sosial.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, menurut Mu’ti, ruang untuk mengembangkan olah rasa justru harus semakin diperkuat.
Kehadiran teknologi informasi memang membawa berbagai tantangan, namun di sisi lain juga membuka peluang besar bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan dan kreativitasnya secara lebih luas.
Dalam konteks tersebut, sastra menjadi salah satu instrumen penting yang mampu membangun karakter peserta didik. Melalui sastra, anak-anak belajar menyampaikan ide, perasaan, dan imajinasi menggunakan bahasa yang santun, kritis, sekaligus penuh makna.
“Sastra tidak hanya mengajarkan kemampuan berbahasa, tetapi juga melatih kepekaan, empati, dan kemampuan memahami kehidupan dari berbagai sudut pandang.
Nilai-nilai inilah yang menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik,” ujarnya.
Mu’ti menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak boleh dipandang sebagai ancaman bagi dunia sastra. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperluas ekosistem literasi sekaligus membuka ruang kreativitas baru bagi pelajar dan guru.
Ia mengungkapkan, Kemendikdasmen tengah mendorong lahirnya berbagai inovasi literasi berbasis digital, termasuk pengembangan digital poetry atau puisi digital sebagai media ekspresi generasi muda.
“Kita ke depan perlu memikirkan digital poetry atau puisi-puisi digital. Kita punya Rumah Pendidikan yang bisa diisi oleh anak-anak dan guru dengan berbagai karya, termasuk karya sastra puisi. Selain itu, kita juga memiliki Majalah Literasi yang diterbitkan secara rutin oleh kementerian,” katanya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa penguatan literasi melalui sastra merupakan bagian dari implementasi kebijakan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini tengah dikembangkan Kemendikdasmen.
Pendekatan tersebut dirancang agar proses belajar tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mendorong peserta didik memahami konsep secara lebih utuh melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna.
Dalam implementasinya, materi pembelajaran akan disusun lebih fokus sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memperdalam pemahaman melalui aktivitas membaca, berdiskusi, menulis, berefleksi, serta menghasilkan karya yang kreatif.
Mu’ti mengatakan, perubahan pendekatan pembelajaran juga akan tercermin dalam sistem penugasan di sekolah.
Tugas-tugas peserta didik tidak lagi sekadar berorientasi pada penyelesaian soal, melainkan diarahkan untuk membangun budaya membaca, meningkatkan kemampuan menulis, berpikir kritis, serta mengembangkan kreativitas.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi nasional, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen akan mendistribusikan sekitar 5,5 juta buku bacaan nonteks ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Distribusi jutaan buku tersebut diharapkan dapat memperkaya koleksi bacaan di sekolah sekaligus memperluas akses peserta didik terhadap bahan bacaan yang berkualitas.
Dengan semakin beragamnya pilihan bacaan, peserta didik diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan imajinasi, memperluas wawasan, serta menumbuhkan minat baca sejak usia dini.
Menurut Mu’ti, keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah melahirkan generasi yang berkarakter, kreatif, berbudaya literasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif.
Melalui penguatan sastra, budaya membaca, dan pemanfaatan ruang digital sebagai media berkarya, pemerintah berharap ekosistem literasi di Indonesia semakin berkembang dan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Ervinna
