Rabu, November 25, 2020
Beranda Sosial & Budaya Kerajaan Baru : King of The King, Hail the King

Kerajaan Baru : King of The King, Hail the King

Setelah geger Keraton Agung Sejagad dan disusul kemudian munculnya Sunda Empire, Keraton Selaco, dan Keraton Nusantara, kini muncul kembali Kerajaan baru King of The King. Kerajaan ini mengklaim memiliki simpanan dana sebanyak 60.000 trilyun dan menugaskan Prabowo sebagai menteri pertahanan untuk membeli alusita untuk pertahanan Negara.

Visi dan Misi Kerajaan King of The King

Sebagai sebuah kerajaan, King of the King ini merupakan raja di raja. Jadi beliau pemimpin kerajaan adalah yang melantik presiden serta raja-raja dari seluruh dunia.

Selain itu, kerajaan yang dicetuskan oleh Mr. Dony Pedro. Kerajaan King of The King ini memiliki posisi menduduki atas dua lembaga keuangan tertinggi di dunia. Dua lembaga tersebut adalah UBS atau Bank of Switzerland serta IMD atau Indonesia Mercusuar Dunia.

Di dua lembaga keuangan tersebut, di klaim kekayaan atau asset yang merupakan warisan dari Soekarno dan kemudian diserahkan kepada King of the King. Ada beberapa surat peninggalan Soekarno yang di klaim memiliki 3 tujuan utama.

Yang pertama adalah untuk digunakan guna melunasi utang-utang luar negeri Indonesia, yang kedua adalah membagikan asset kepada seluruh masyarakat Indonesia, dan yang ketiga adalah untuk keperluan membeli Alusista atau Alat Utama Sistem Senjata. Uang yang dibagikan sendiri rencananya akan dibagi dari Sabang hingga Merauke dan setiap kepala akan mendapat 3 miliar. Dijamin warga Negara indonesia akan menjadi Sultan Minyak macam Warga Dubai.

Kerajaan ini mengaku memiliki Supersemar atau Surat perintah Sebelas Maret yang di klaim sebagai bukti atas perintah Soekarno yang melimpahkan segala kekayaannya kepada Dony Pedro. Hal ini yang kemduian menjadi alasan pemisahan asset Soekarno dan akan di serahkan kepada Mr.Dony Pedro di Bank Swiss pada maret 2020 . Uang sebanyak 60.000 Trilyun akan turun ke Bank Indonesia.

Cerminan Krisis Frustasi Sosial di Masyarakat

Menurut dosen FISIP Universitas Padjajaran Ahmad Buchori fenomena munculnya kerajaan kerajaan seperti Sunda Empire, KAS dan yang terakhir adalah King of The King sebagai cerminan akan frustasi sosial yang terjadi di masyarakat. Hal ini terjadi karena mereka sudah hilang orientasi ke depan serta menghadapi kenuntuan atau kejenuhan. Hal tersebut karena masyarakat memiliki berbagai desakan kehidupan baik dari segi sosial hingga ekonomi.

Di tengah berbagai desakan tersebut, hadir seseorang yang dianggap bisa membawa angina segar perubahan bagi kehidupan masyarakat. Fenomena ini berangkat dari kisah ratu adil yang sebenarnya bukan kisah baru dan muncul setiap waktu tertentu.

Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Budaya UNAIR mengatakan bahwa maraknya kerajaan fiktif yang muncul di Indonesia sebagai perspektif Revivalisme. Revivalisme sendiri merupakan ide akan kebangkitan kejayaan pada suatu masa lampau. Menurut Adrian, revivalisme di Indonesia sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi pasca era reformasi.

Pada awalnya, reformasi dianggap sebagai perubahan menuju kea rah yang lebih baik, namun justru menghasilkan tatanan yang sebaliknya dianggap lebih kacau. Terlebih lagi, di tengah arus modernisasi, masih ada segelintir masyarakat yang masih meyakini unsur magis serta keinginan untuk membangun kejayaan sebagaimana kerajaan di masa lampau. Kerentanan semacam inilah yang kemudian ditunggangi oleh beberapa orang tak bertanggung jawab untuk mencari uang atau untuk mencari kepentingan ekonomi, politik, ataupun lainnya. Sebagaimana kemudian raja dan Ratu dari Keraton Agung Sejagat yang kemudian ditangkap oleh polisi karena berindikasi penipuan karena memungut iuran kepada pengikutnya.

Untuk kerajaan Sunda Empire sendiri sedang menghadapi gugatan dari Roy Suryo setelah ada indikasi mengubah keterangan pada halaman wikipedia bahwa NATO dan United Nations atau PBB merupakan bagian dari Sunda Empire.

Faktor pendorong munculnya kerajaan fiktif

Menurut Adrian terdapat beberapa factor yang mendorong mengapa masyarakat di Indonesia sangat rentan percaya kepada kerajaan fiktif yang muncul. Hal yang pertama yaitu masih adanya kepercayaan dengan sungguh akan adanya unsur magis dari tokoh. Yang kedua adalah factor structural dimana situasi pasca reformasi dianggap justru lebih kacau daripada tatanan sebelumnya sehingga masyarakat kemudian banyak yang mencari alternative.

Fenomena tersebut hampir mirip dengan heboh pengobatan tradisional yang disebut lebih ampuh daripada pengobatan medis. Menurut Adrian, masyarakat perlu meningkatkan literasi, tidak mudah untuk memviralkan atau mentertawakan serta melibatkan sejarahwan ketika fenomena kerajaan seperti ini muncul kembali di kemudian hari.

 

Most Popular

Nelayan Benih Lobster Lampung dan Bengkulu, Sangat Antusias atas Dibukanya Keran Ekspor Benih Lobster

Jakartanews.co.id, Pesisir Barat - Berbeda dengan para politikus yang sampai saat ini masih simpang siur dan saling beradu argumen tentang kebijakan terbaru yang dikeluarkan...

Presiden Jokowi Memberikan Bantuan Untuk Usaha Mikro Di Yogyakarta

Jakartanews.co.id, DIY - Presiden Joko Widodo dalam rangka meringankan beban para pelaku usaha mikro, meluncurkan Banpres Usaha Mikro.Bantuan tersebut berupa modal kerja yang dapat...

Presiden Jokowi Banjir Ucapan Selamat Ulang Tahun

Jakartanews.co.id, Jakarta - Preasiden Joko Widodo merayakan ulang tahunnya yang ke 59 tahun, Jokowi Lahir di Solo pada 21 Juni 1961 dari pasangan Sudijatmi...

Anggota Komisi II DPR RI, Desak Pemerintah Segera Terbitkan PERPPU PILKADA

Jakarta, Jakartanews.co.id – Angggota DPR RI Komisi II dari Partai Amanat Nasional (PAN) mendesak Pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) Pemiilihan...

Recent Comments