Minggu, Desember 6, 2020
Beranda Internasional Deradikalisasi WNI eks ISIS, mungkinkah?

Deradikalisasi WNI eks ISIS, mungkinkah?

Berbagai pro dan kontra mengenai wacana akan memulangkan WNI eks ISIS ke Indonesia.  Bahkan beberapa hari ini terjadi perdebatan wacana yang melibatkan antara tokoh politik dan menteri bahkan hingga Jokowi memberikan pendpat mengenai pemulangan WNI eks ISIS.

Efektivitas deradikalisasi mantan /simpatisan teroris

Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis dari Deputi Pencegahan, Perliindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan bahwa tidak mudah untuk melakukan deradikalisasi terhadap mantan kombatan ISIS.

Hal ini karena para kombatan ini sudah dirasuki dengan ideology ISIS dan sudah dicuci otaknya. Oleh karena itu akan sangat sulit untuk mengembalikan ideology mereka kembali seperti dahulu sebelum bergabung. Hal inilah yang kemudian wajib untuk dipertimbangkan dengan serius oleh pemerintah apabila hendak memulangkan 600 warga eks ISIS.

Program deradikalisasi terorisme BNPT juga masih dianggap belum efektif. Untuk program deradikalisasi ini masih membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak.  Deteksi ideology ini sangat penting untuk mengetahui apakah mereka adalah korban, simpatisan atau bahkan jihadis.  Ideology merupakan hal yang dapat tertidur dan apabila tidak di gerus dengan baik, ideology dan radikal akan sangat mudah untuk menyusup kembali. Hal ini bisa dilihat pada contoh bombardir  gereja di Filipina dimana kedua pelaku justru adalah alumnus Afghanistan yang sudah mengikuti program deradikalisasi.

Menkopolhukam Mahfud MD: banyak mudharat jika WNI eks ISIS dipulangkan

mahfud enggan memulangkan EKS ISISMenkopolhukam Mahfud MD sendiri mengatakan bahwa dirinya saat ini cenderung lebih memillih untuk enggan memulangkan WNI eks ISIS yang saat ini berada di kamp pengungsian. Mahfud menilai bahwa WNI yang sudah berjuang  bersama dengan kelompok radikal seperti ISIS akan sangat membahayakan apabila dipulangkan. Hal ini sejalan dengan pernyataan presiden Jokowi yang menyatakan tidak ingin untuk memulangan WNI eks ISIS.  Meskipun menolak, Jokowi menyatakan masih akan membahas hal tersebut dalam rapat terbatas bersama dengan jajarannya.

Selain mudharat pengembalian WNI eks ISIS, menurut Mahfud MD juga menduga ada upaya di balik isu pengembalian WNI eks ISIS ini.  Hal ini karena sebenarnya pemerintah sendiri sudah mengeluarkan pernyataan tegas mengenai eks ISIS tersebut.

Opsi memulangkan anak-anak

Namun begitu, BNPT masih membuka kemungkinan akan adanya opsi memulangkan anak-anak korban WNI eks ISIS. Mereka adalah anak-anak korban kekerasan orang tuanya. Mereka rata-rata pada awalnya tidak mengetahui bahwa mereka akan dibawa ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Menurut Suhardi Alusius kepala BNPT mengatakan apabila opsi menyelamatkan anak-anak eks ISIS ini di setujui, perlu ada seleksi sebelum mereka kembali ke tanah air. Meskipun mereka adalah anak-anak yang dipaksa untuk mengikuti ideology orang tuanya, bukan tidak mungkin justru anak-anak inilah yang bisa jadi lebih militant daripada orangtuanya. Hal ini karena semenjak kecil mereka sudah dijejali dengan ideology dan doktrin doktrin dari ISIS.

Guru besar UI Himkawanto Juwana menanggapi wacana pemulangan anak-anak eks ISIS ini perlu dipikirkan dengan matang oleh pemerintah. Sedangkan menurutnya untuk orangtua mereka ia menyebut bahwa kewajiban pemerintah untuk memberi perlndungan sudah gugur karena mereka sudah kewarganegaran sebagai WNI  sudah gugur.  Menurutnya, harus ada seleksi untuk mereka.

Kriteria pertama adalah doktrinasi. Perlu adanya penelitian dan observasi  apakah anak-anak ini sudag terdoktrinasi dengan paham ISIS. Doktrinasi sejak usia muda akan membekas sangat dalam. Kriteria berikutnya adalah assessment apakah anak-anak tersebut bersedia untuk dipisahka dari orrantuanya serta apakah masih memiliki keluarga yang sanggup untuk merawat. Assessment ini penting karena orang tua tidak bisa pulang ke Indonesia. Jangan sampai akhirnya anak-anak ini menaruh dendam karena pemerintah seakan memisahkan mereka dengan orang tua.

Terakhir, anak-anak tersebut tidak terindikasi terlibat dengan kejahatan termasuk kejahatan terorisme. Hal ini sangat penting  karena dengan terlibat dalam kegiatan terorisme tersebut dapat sangat  berbahaya tidak hanya bagi Negara Indonesia namun juga dengan warga indonesia sendiri karena dapat menyebarkan ideologi radikalisme di dalam negeri.

 

Most Popular

Nelayan Benih Lobster Lampung dan Bengkulu, Sangat Antusias atas Dibukanya Keran Ekspor Benih Lobster

Jakartanews.co.id, Pesisir Barat - Berbeda dengan para politikus yang sampai saat ini masih simpang siur dan saling beradu argumen tentang kebijakan terbaru yang dikeluarkan...

Presiden Jokowi Memberikan Bantuan Untuk Usaha Mikro Di Yogyakarta

Jakartanews.co.id, DIY - Presiden Joko Widodo dalam rangka meringankan beban para pelaku usaha mikro, meluncurkan Banpres Usaha Mikro.Bantuan tersebut berupa modal kerja yang dapat...

Presiden Jokowi Banjir Ucapan Selamat Ulang Tahun

Jakartanews.co.id, Jakarta - Preasiden Joko Widodo merayakan ulang tahunnya yang ke 59 tahun, Jokowi Lahir di Solo pada 21 Juni 1961 dari pasangan Sudijatmi...

Anggota Komisi II DPR RI, Desak Pemerintah Segera Terbitkan PERPPU PILKADA

Jakarta, Jakartanews.co.id – Angggota DPR RI Komisi II dari Partai Amanat Nasional (PAN) mendesak Pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) Pemiilihan...

Recent Comments