Jakarta, jakartanews.co.id Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) terus mendorong transformasi layanan perpustakaan agar semakin adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan Literasi Kreatif bertajuk “Satu Racikan Matcha, Beragam Kreasi: Kreativitas Generasi Muda Berlandaskan Empat Pilar MPR RI” di Perpustakaan MPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada (4/11/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pengembangan perpustakaan yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan bahan bacaan dan akses informasi, tetapi juga diarahkan menjadi ruang pembelajaran interaktif, pengembangan kreativitas, serta penguatan wawasan kebangsaan. Melalui pendekatan literasi yang lebih partisipatif, Perpustakaan MPR RI berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang menarik sekaligus memberikan nilai tambah bagi para pemustaka.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal (Setjen) MPR RI, Budi Muliawan, menegaskan bahwa inovasi merupakan kebutuhan mendasar dalam pengembangan layanan perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan penggunanya agar tetap memiliki daya tarik serta mampu menjalankan fungsi edukatif secara optimal.
“Kegiatan Literasi Kreatif ini merupakan komitmen nyata kami untuk terus meningkatkan pelayanan Perpustakaan MPR RI. Kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya adaptif, tetapi juga inspiratif bagi seluruh pimpinan dan anggota MPR, pegawai, hingga masyarakat luas,” ujar Budi Muliawan, yang akrab disapa Wawan.
Ia menjelaskan, pengembangan Perpustakaan MPR RI tidak semata-mata diarahkan pada peningkatan fasilitas dan akses terhadap sumber informasi. Lebih dari itu, perpustakaan diharapkan menjadi pusat literasi konstitusi sekaligus ruang pembelajaran yang mampu memperkuat pemahaman masyarakat terhadap Empat Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Menurutnya, penguatan literasi kebangsaan perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan yang komunikatif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai fundamental kehidupan berbangsa dan bernegara tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dapat dihayati dan diterapkan dalam perilaku serta interaksi sosial.
“Perpustakaan harus mampu menjadi ruang yang hidup. Bukan sekadar tempat membaca dan mencari referensi, melainkan juga wadah untuk bertukar gagasan, mengembangkan potensi, serta membangun pemahaman kebangsaan,” jelasnya.
Menariknya, kegiatan Literasi Kreatif kali ini mengangkat aktivitas meracik teh hijau khas Jepang atau matcha sebagai medium pembelajaran kreatif. Kegiatan tersebut menghadirkan Ismeilia Suardi dari PITU Tea & Library sebagai narasumber yang memberikan wawasan sekaligus pengalaman praktik mengenai proses pengolahan dan peracikan matcha.
Bagi Wawan, aktivitas meracik matcha mengandung filosofi yang relevan dengan kehidupan organisasi, khususnya di lingkungan Setjen MPR RI. Setiap bahan memiliki karakteristik dan peran masing-masing, tetapi melalui proses yang tepat dapat berpadu menghasilkan cita rasa yang harmonis.
“Selamat meracik matcha untuk teman-teman semua. Ingatlah pedoman bahwa meski bahan-bahan dan proses yang digunakan berbeda-beda, semuanya justru saling melengkapi untuk menciptakan cita rasa yang terbaik,” ungkapnya.
Filosofi tersebut, lanjut Wawan, mencerminkan pentingnya keberagaman peran, kolaborasi, dan sinergi dalam menjalankan tugas kelembagaan. Setiap unit kerja di lingkungan Setjen MPR RI memiliki fungsi, tanggung jawab, dan ruang lingkup pekerjaan yang berbeda. Namun, seluruh unsur tersebut harus mampu bergerak secara terpadu untuk mencapai tujuan organisasi.
“Sama seperti organisasi kita di Setjen MPR RI. Setiap unit memiliki lingkup kinerja yang berbeda-beda. Namun, ketika seluruh perbedaan itu berpadu dan bersinergi dengan harmonis, kita akan mampu mencapai tujuan utama organisasi, yaitu memberikan layanan optimal kepada semua pimpinan dan anggota MPR, serta masyarakat luas,” tegasnya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya MPR RI, Yusniar, dalam laporan kegiatannya menyampaikan bahwa Literasi Kreatif merupakan bagian dari komitmen Perpustakaan MPR RI untuk memperkuat budaya literasi sekaligus memperluas fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Menurut Yusniar, perpustakaan pada era sekarang dituntut untuk tidak hanya menyediakan informasi dan pengetahuan, tetapi juga mampu menciptakan ruang yang mendorong lahirnya kreativitas, keterampilan, serta interaksi yang produktif. Karena itu, kegiatan literasi perlu dikembangkan dengan format yang lebih variatif agar mampu menjangkau kebutuhan dan minat pemustaka yang semakin beragam.
“Perpustakaan MPR RI secara berkelanjutan menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif dan kreatif yang memberikan nilai tambah bagi pegawai di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya pengetahuan dan keterampilan pegawai, sekaligus membangun komunikasi, interaksi, dan kolaborasi lintas unit kerja. Dengan demikian, perpustakaan dapat berkontribusi lebih luas dalam menciptakan lingkungan kerja yang dinamis, produktif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan kelembagaan.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Budi Muliawan, Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga MPR RI Susan Andriyani, Pustakawan Ahli Madya MPR RI Yusniar, sejumlah pejabat Eselon III dan Eselon IV, pejabat fungsional, serta 50 pegawai di lingkungan Setjen MPR RI yang mengikuti kegiatan sebagai peserta.
Melalui penyelenggaraan Literasi Kreatif, MPR RI ingin menegaskan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan budaya literasi di lingkungan parlemen. Inovasi layanan yang memadukan unsur edukasi, kreativitas, dan kebersamaan diharapkan mampu menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang semakin inklusif, produktif, dan inspiratif.
Lebih jauh, penguatan fungsi Perpustakaan MPR RI sebagai pusat literasi konstitusi diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang tidak hanya memiliki wawasan luas, tetapi juga memahami serta mengamalkan nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan pendekatan literasi yang terus berkembang, Perpustakaan MPR RI diharapkan tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan dan penyedia sumber pengetahuan, melainkan tumbuh menjadi pusat pengembangan gagasan, kreativitas, dan kesadaran kebangsaan yang memberikan manfaat nyata bagi institusi maupun masyarakat luas.
Ervinna
