Jakarta, jakartanews.co.id Petani transmigran di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, kini memiliki solusi untuk mempercepat proses pascapanen sekaligus meningkatkan nilai jual hasil pertanian. Kehadiran mesin pengering gabah berkapasitas dua ton yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (TEP ITS) mampu memangkas waktu pengeringan dari sebelumnya 3–7 hari menjadi hanya belasan jam.
Teknologi tersebut menjadi terobosan penting bagi petani yang selama ini bergantung pada penjemuran manual dan kondisi cuaca. Selain mempercepat penanganan hasil panen, penggunaan mesin pengering juga mengurangi praktik penjemuran gabah di badan jalan yang berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas.
Untuk mengatasi keterbatasan pasokan listrik di kawasan transmigrasi, mesin ini didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dengan demikian, proses pengeringan gabah dapat berlangsung lebih efektif tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik konvensional.
Menteri Transmigrasi RI, M Iftitah Sulaiman Suryanagara, meninjau langsung pemanfaatan teknologi tersebut bersama masyarakat. Ia menegaskan, kehadiran inovasi di kawasan transmigrasi harus memberikan manfaat nyata, terutama dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat ekonomi lokal, dan membuka peluang kesejahteraan masyarakat.
“Saya ingin menyemangati dan melihat langsung karya-karya nyata yang diberikan oleh para anggota tim ekspedisi patriot dalam gerakan transmigrasi patriot, bahwa hari ini transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi membangun satu kawasan ekonomi,” ujar Iftitah dalam keterangan tertulis pada (31/10/2026).
Manfaat inovasi TEP ITS tidak hanya berhenti pada percepatan pengeringan gabah. Rangkaian teknologi pengolahan pascapanen, termasuk pemilahan beras, turut membuka peluang peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.
Melalui proses pemilahan, beras utuh berkualitas premium dapat dipasarkan dengan harga Rp15.000–Rp17.000 per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan harga jual sebelumnya yang berada di kisaran Rp12.000 per kilogram.
Sementara itu, beras menir yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan harga Rp8.000–Rp9.000 per kilogram, kini memiliki nilai tambah setelah diolah menjadi tepung beras. Produk tersebut dapat dipasarkan dengan harga sekitar Rp18.000 per kilogram, sebelum memperhitungkan biaya pengolahan.
Pengembangan tepung beras dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat dan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk produsen peyek dan kue.
BUMDes tersebut juga telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sehingga pengembangan usaha memiliki landasan legalitas untuk mendukung aktivitas ekonomi produktif masyarakat.
Model pengolahan ini memperlihatkan bahwa peningkatan pendapatan petani tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah hasil panen, tetapi juga kemampuan mengolah dan memasarkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Iftitah berharap berbagai inovasi tersebut mampu memperkuat kemandirian masyarakat transmigrasi, meningkatkan pendapatan rumah tangga, serta menciptakan kesempatan kerja baru melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Selain sektor pertanian, TEP ITS juga menghadirkan sejumlah inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat di bidang peternakan, perikanan, dan layanan dasar.
Di sektor energi dan pertanian, tim mengembangkan reaktor biogas yang menghasilkan produk sampingan berupa pupuk organik cair dengan kapasitas produksi yang dilaporkan mencapai 50 liter per hari.
Di bidang perikanan, teknologi pengasapan ikan mampu memangkas waktu produksi yang sebelumnya membutuhkan sekitar dua hari menjadi maksimal dua jam. Inovasi ini berpotensi meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat pengembangan usaha olahan hasil perikanan masyarakat.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga, tim membangun instalasi pompa air bersih yang dilengkapi menara tandon. Fasilitas tersebut kini melayani kebutuhan air bersih bagi 35 keluarga.
Dukungan terhadap penguatan ekonomi desa juga dilakukan melalui pengembangan situs promosi dan aplikasi administrasi BUMDes. Kedua platform digital tersebut dirancang untuk membantu pemasaran produk lokal sekaligus meningkatkan tertib administrasi dan pencatatan kegiatan usaha.
Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan, keterlibatan perguruan tinggi dalam Ekspedisi Patriot menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk menerapkan keilmuan secara langsung dalam menjawab persoalan masyarakat.
Menurutnya, program tersebut melibatkan 100 mahasiswa yang tergabung dalam 20 tim di tiga distrik, dengan dukungan 20 dosen pendamping.
“Ini ada 100 mahasiswa, 20 tim di tiga distrik dan 20 dosen yang terlibat di sana. Dan mereka mempunyai kesempatan untuk memberi kebermanfaatannya lebih bagi masyarakat dengan ilmu yang mereka miliki,” ujar Bambang.
Ia juga menyampaikan kesiapan ITS untuk melanjutkan kontribusi melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan inovasi sekaligus memperkuat pendampingan masyarakat setelah pelaksanaan ekspedisi.
Apresiasi juga disampaikan Wakil Bupati Manokwari Selatan Mesak Inyomusi. Ia menilai inovasi yang dihadirkan mahasiswa dan dosen TEP ITS telah menyentuh kebutuhan konkret masyarakat, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga penyediaan akses air bersih.
“Inovasi-inovasi yang terbaik oleh adik-adik kami, mahasiswa dari Patriot ini betul-betul menyentuh kami, warga masyarakat di Manokwari Selatan. Sangat luar biasa, semoga ini jadi berkat bagi kami dan semua masyarakat transmigrasi yang ada di sini,” pungkasnya.
Kehadiran berbagai teknologi tersebut menegaskan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi membutuhkan lebih dari sekadar penyediaan infrastruktur dan pemindahan penduduk. Penguatan kapasitas produksi, pengolahan hasil, akses energi, pemasaran, serta kelembagaan ekonomi desa menjadi bagian penting dalam membangun kawasan yang produktif dan mandiri.
Di Oransbari, mesin pengering gabah menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi teknologi dapat memangkas hambatan produksi sekaligus membuka jalan bagi peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat.
Ervinna
