Jakarta, jakartanews.co.id Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan program revitalisasi terhadap 71.744 satuan pendidikan pada 2027. Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki kondisi sarana dan prasarana sekolah, terutama satuan pendidikan yang mengalami kerusakan berat, terdampak bencana, maupun berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan mekanisme pelaksanaan revitalisasi pada 2027 masih akan menggunakan pola yang sama dengan tahun sebelumnya, yakni melalui swakelola oleh masing-masing satuan pendidikan.
“Mekanismenya tetap sama dengan tahun lalu, jadi swakelola oleh masing-masing satuan pendidikan. Jadi tidak ada perubahan,” kata Abdul Mu’ti, pada (28/9/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, angka 71.744 satuan pendidikan tersebut masih berpotensi bertambah. Kemendikdasmen tengah melakukan penghitungan terhadap sekolah-sekolah lain yang dinilai membutuhkan intervensi pemerintah.
6.000 Sekolah Berpotensi Mendapat Tambahan Revitalisasi
Kemendikdasmen memperkirakan terdapat sekitar 6.000 satuan pendidikan yang berpotensi masuk sebagai tambahan penerima program revitalisasi pada 2027.
Penambahan tersebut akan disesuaikan dengan hasil pendataan dan pemetaan kebutuhan sekolah. Pemerintah juga akan mempertimbangkan kondisi faktual sarana dan prasarana pendidikan di masing-masing satuan pendidikan.
Dalam menentukan sekolah penerima program, terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian, yakni sekolah yang terdampak bencana, sekolah dengan tingkat kerusakan berat, serta sekolah yang berada di wilayah 3T.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan anggaran revitalisasi diarahkan kepada satuan pendidikan yang memiliki kebutuhan paling mendesak.
Salah satu daerah yang mendapatkan perhatian dalam program revitalisasi adalah Jawa Timur. Berdasarkan alokasi yang ada, sebanyak 673 satuan pendidikan di provinsi tersebut menjadi sasaran revitalisasi.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap kebutuhan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di Jawa Timur.
Aries mengatakan, berdasarkan data yang disampaikan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) kepada Kemendikdasmen, penerima program revitalisasi di Jawa Timur terdiri atas berbagai jenjang pendidikan.
“Sesuai dengan data yang kami kirim berdasarkan data Dapodik ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, alhamdulillah SMA tahun ini mendapat 324, SMK sekitar 208, dan SLB 141,” kata Aries.
Secara rinci, 673 sekolah tersebut terdiri atas 324 SMA, 208 SMK, dan 141 SLB.
Menurut Aries, alokasi tersebut menjadi langkah penting untuk membantu sekolah-sekolah yang membutuhkan perbaikan maupun penambahan fasilitas pendidikan.
Masih Banyak Sekolah Membutuhkan Penanganan
Meski 673 sekolah telah masuk dalam sasaran revitalisasi, Dinas Pendidikan Jawa Timur masih mengusulkan sejumlah satuan pendidikan lain yang dinilai membutuhkan penanganan.
Usulan tersebut mencakup 24 SMA, lebih dari 100 SMK, dan 48 SLB.
Sekolah-sekolah tersebut antara lain membutuhkan pembangunan maupun penambahan ruang kelas karena kapasitas yang tersedia belum mencukupi kebutuhan peserta didik.
“Ada sekolah yang membutuhkan kelas-kelas baru,” ujar Aries.
Dia menjelaskan, sekolah yang membutuhkan penanganan tersebut tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur. Sebagian berada di wilayah pelosok dan selama ini belum mendapatkan alokasi anggaran untuk perbaikan maupun pengembangan fasilitas secara memadai.
Kondisi tersebut, menurut Aries, menunjukkan bahwa kebutuhan revitalisasi sekolah masih cukup besar dan perlu dilakukan secara bertahap berdasarkan tingkat urgensinya.
Sekolah Yang Belum Tersentuh Anggaran Diharapkan Diprioritaskan
Karena itu, Dinas Pendidikan Jawa Timur berharap satuan pendidikan yang belum mendapatkan dukungan anggaran pada 2026 dapat menjadi bagian dari prioritas program revitalisasi pada 2027.
Harapan tersebut sejalan dengan rencana Kemendikdasmen yang masih membuka kemungkinan penambahan sekitar 6.000 satuan pendidikan dari target awal 71.744 sekolah.
Dengan demikian, pendataan dan pemetaan kebutuhan sekolah menjadi penting agar program revitalisasi tidak hanya berorientasi pada jumlah sekolah yang diperbaiki, tetapi juga memastikan intervensi pemerintah menyasar sekolah yang memiliki kebutuhan paling mendesak.
Program revitalisasi tersebut diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan belajar sekaligus memastikan peserta didik di berbagai wilayah memperoleh fasilitas pendidikan yang lebih layak dan memadai.
Ervinna
