jakartanews
Jakarta, Jakarta Islamic Centre (JIC) Digital School menggelar kegiatan edukasi bertema “Menyiapkan Generasi Adaptif, Kreatif, Produktif dan Siap Berkarya di Era Digital” di Lantai 2 Balai Yos Sudarso, Kantor Wali Kota Jakarta Utara, pada (12/8/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami perkembangan teknologi digital sekaligus mendorong pemanfaatan media sosial secara lebih produktif. Tidak sekadar menjadi pengguna atau penonton, peserta diajak melihat ruang digital sebagai sarana belajar, membangun karya, mengembangkan portofolio, hingga membuka peluang ekonomi.
Salah satu sesi utama menghadirkan praktisi, Ruki Cita Munggaran, S.IP., dengan materi bertajuk “Dari Scroll Menjadi Skill: Mengubah Media Sosial Menjadi Peluang Berkarya.”
Dalam pemaparannya, Ruki menekankan pentingnya perubahan pola pikir generasi muda dalam menggunakan media sosial. Menurut dia, perkembangan teknologi seharusnya tidak hanya membuat masyarakat semakin aktif mengonsumsi konten, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai dan manfaat.
“Saya sebagai pribadi dan juga atas nama Sudin Kominfotik sangat mengapresiasi terselenggaranya acara Jakarta Islamic Centre Digital School. Mudah-mudahan Digital School ini dapat menjadi ruang yang mendorong anak-anak muda untuk semakin kreatif, adaptif, dan produktif dalam memanfaatkan teknologi digital,” ujar Ruki dalam keterangannya, di Jakarta, pada (12/8/2026).
Ia mengatakan, generasi muda perlu mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan media sosial hanya untuk menggulirkan konten dari satu unggahan ke unggahan lainnya.
“Saya ingin anak muda berhenti melihat media sosial hanya sebagai tempat untuk scroll. Gunakan media sosial untuk belajar, membuat karya, membangun portofolio, dan menawarkan value. Karena di era digital, yang dibutuhkan bukan hanya orang yang bisa menggunakan teknologi, tetapi orang yang mampu mengubah teknologi menjadi manfaat dan peluang,” katanya.
Menurut Ruki, kemampuan digital saat ini menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda. Namun, penguasaan teknologi perlu dibarengi dengan kreativitas, kemampuan berkomunikasi, konsistensi, serta keberanian untuk menghasilkan karya.
Media sosial, kata dia, dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkenalkan kemampuan dan membangun rekam jejak profesional. Konten yang dibuat secara konsisten dan memiliki nilai dapat menjadi bagian dari portofolio yang menunjukkan kompetensi seseorang.
Karena itu, generasi muda tidak harus selalu menunggu memiliki pekerjaan formal untuk mulai berkarya. Mereka dapat memulai dari hal-hal sederhana sesuai minat dan kemampuan, seperti membuat konten edukasi, desain, video, tulisan, fotografi, pemasaran digital, maupun berbagai bentuk kreativitas lainnya.
“Dunia digital sudah banyak orang menjadi penonton. Saatnya warga Jakarta Utara menjadi kreator,” tegas Ruki.
Ia berharap kegiatan Digital School dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan literasi dan kecakapan digital masyarakat, khususnya generasi muda di Jakarta Utara.
Dengan keterampilan yang tepat, ruang digital diharapkan tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan penciptaan peluang.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, praktisi, dan masyarakat dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan di era digital.
Melalui semangat adaptif, kreatif, produktif, dan siap berkarya, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu mengambil peran sebagai kreator dan pelaku perubahan di tengah pesatnya perkembangan ekonomi serta ekosistem digital.
Ervinna
